Belakangan ini, istilah incel atau involuntary celibate semakin sering dibicarakan. Komunitas daring ini berisi laki-laki yang merasa tersisih karena tidak mendapat perhatian perempuan, lalu melampiaskan kebencian mereka kepada perempuan. Mereka menganggap perempuan sebagai sumber segala masalah dan bahkan merayakan kekerasan terhadap perempuan.
Gerakan ini bukan sekadar fenomena internet biasa. Sejumlah kasus pembunuhan massal yang dilakukan oleh laki-laki yang terpapar paham incel, seperti yang terjadi di Amerika Serikat dan Kanada, menunjukkan betapa berbahayanya ideologi ini. Para pelaku mengaku sebagai 'pahlawan' bagi sesama incel. Sayangnya, banyak anak laki-laki dan remaja yang perlahan-lahan terpapar paham ini tanpa disadari orang tua, terutama melalui konten yang direkomendasikan algoritma media sosial.
Lalu, bagaimana cara mencegah anak laki-laki kita terjebak dalam lingkaran kebencian ini? Dua orang tua yang juga aktivis, Tua Maratua dan Raya, berbagi pengalaman mereka dalam sebuah diskusi bertajuk "NGOPI: Parenting di Tengah Gempuran Komunitas Incel". Berikut poin-poin penting yang bisa kita terapkan di rumah.
1. Hapus Bias Gender Sejak Dini
Norma maskulinitas yang kaku sering menjadi pintu masuk bagi incel untuk memengaruhi anak laki-laki. Misalnya, anggapan bahwa laki-laki harus selalu kuat, tidak boleh menangis, dan tidak boleh menyukai hal-hal yang dianggap feminin. Tua, seorang ayah, sengaja membiarkan anaknya bermain boneka beruang kesayangannya. Menurutnya, bermain boneka membantu anak meregulasi emosi, menjadi lebih tenang, dan melatih motorik halus.
Raya, seorang ibu tunggal, juga tidak pernah melarang anaknya memakai baju warna pink jika anaknya menyukainya. "Selama dia nyaman, tidak masalah," ujarnya. Dengan membebaskan anak dari belenggu gender, kita membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang lebih fleksibel dan tidak mudah terpengaruh paham yang membenci perbedaan.
2. Tanamkan Nilai Kesetaraan di Rumah
Kelompok incel percaya bahwa perempuan harus dikendalikan oleh laki-laki. Untuk menangkalnya, kita perlu mengajarkan kesetaraan gender melalui contoh nyata. Tua dan istrinya selalu berbagi tugas rumah tangga secara adil. Ketika sama-sama bekerja, Tua akan menemani anak mengerjakan PR, lalu memasak dan mencuci. Anak pun melihat bahwa pekerjaan rumah bukanlah 'tugas perempuan' atau 'tugas laki-laki' semata.
Raya menambahkan, anak adalah peniru ulung. Dia biasa melibatkan anak dalam pengambilan keputusan keluarga dengan mendengarkan pendapat ibunya. "Misalnya di meja makan, kita putuskan sesuatu bersama-sama dengan mendengarkan pendapat ibu," tuturnya. Kebiasaan kecil ini mengajarkan anak laki-laki untuk menghormati perempuan dan tidak merasa lebih superior.
3. Jadilah Pendengar yang Baik
Anak laki-laki sering kali merasa tertekan oleh tuntutan maskulinitas. Mereka mungkin enggan bercerita kepada orang tua karena takut dianggap lemah. Padahal, mereka justru rentan mencari validasi di komunitas daring yang salah. Karena itu, luangkan waktu untuk mendengarkan perasaan anak tanpa menghakimi. Tunjukkan bahwa mengekspresikan emosi adalah hal yang wajar, bukan tanda kelemahan.
4. Awasi Aktivitas Daring dengan Bijak
Algoritma media sosial bisa dengan cepat membawa anak ke konten-konten ekstrem jika tidak diawasi. Kenali aplikasi yang digunakan anak, ikut serta dalam beberapa aktivitas daringnya, dan diskusikan konten yang mereka tonton. Ajari anak untuk berpikir kritis terhadap pesan-pesan yang merendahkan perempuan atau mempromosikan kekerasan.
Dengan menerapkan pola asuh yang setara, terbuka, dan penuh kasih, kita dapat membantu anak laki-laki tumbuh menjadi pribadi yang sehat secara mental dan menghargai semua gender. Mari mulai dari langkah kecil di rumah.